Apakah Saya Menjadi Agen Perubahan?

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Reformata.com – HOMO sapiens atau manusia adalah makhluk sosial. Karena itu manusia berinte-raksi satu dengan yang lain. Setiap orang menjadi bagian dari suatu kelompok sosial, seperti keluarga, karyawan, kelompok hobi, gereja, dsb. Akhir-akhir ini orang juga menjadi anggota kelompok virtual seperti Facebook, Twitter dan lain-lain. Di dalam kelompok, manusia saling mempengaruhi, baik secara positif maupun secara negatif. Dengan demikian manusia saling mempengaruhi untuk berubah. 
Hanya dengan menjadi bagian dalam suatu kelompok sosial, ma-nusia terasah untuk bertumbuh. Mengkopi perilaku orang lain adalah salah satu strategi utama manusia belajar dan berubah. Karena itu se-orang penulis menyarankan meng-ganti nama spesies manusia men-jadi homo mimicus – makhluk peniru. Dari masa ke masa sejarah mencatat masyarakat berubah dan ini disebabkan oleh interaksi sosial. Alkitab mengatakan: “Besi mena-jamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 27: 17). Dari kumpulan manusia dalam suatu ke-lompok sosial, sudah barang tentu ada orang-orang tertentu yang mengawali perubahan itu, dimulai dari dirinya; ditularkan dan diikuti oleh orang-orang lain di sekitarnya.
Hasil survei MRI di Jakarta pada akhir 2008 menyatakan bahwa mayoritas masyarakat dewasa (85%) mengklaim mengalami perubahan dalam 12 bulan terakhir. Pertanyaan lain dalam survei ‘Perubahan’ itu adalah siapa yang menolong mereka berubah dan siapa sebaliknya yang tidak menjadi model yang baik dan mem-buat mereka tidak termotivasi untuk berubah?
Siapa yang meno-long Anda berubah menjadi lebih baik? Masing-masing pribadi pasti mempunyai jawa-ban sendiri. Hasil survei MRI itu memberikan gambaran umum ma-syarakat Indonesia, khususnya Jakarta, me-ngenai masalah ketela-danan dalam berubah. Separuh masyarakat mengklaim orang tua merekalah yang menolong mereka untuk berubah (51%). Ini tidak mengherankan karena memang peranan orang tua dalam mendidik anak dan membimbing mereka bermasyarakat. Seharusnya semua orang, paling tidak kebanyakan orang, merasakan pengaruh positif orang tua mereka. Menjadi perta-nyaan apa yang dirasakan oleh separuh orang lain tentang orang tua mereka?
Mengingat usia responden yang sudah cukup dewasa (20 tahun ke atas), agak mengherankan kalau tidak ada pribadi tertentu di luar orang tua yang menginspirasi me-reka untuk berubah akhir-akhir ini. Berikut masyarakat merasa peru-bahan itu datang dari diri mereka sendiri (12%), dari pasangan (11%)  atau keluarga lain (11%). Dengan demikian tampaknya mayoritas tidak mendapatkan pengaruh positif dari luar lingkungan keluarga tapi minoritas saja (15%). 
Walaupun masih paling banyak, namun cukup memprihatinkan bahwa pemimpin agama pun tidak secara signifikan (6%) mempe-ngaruhi masyarakat secara positif – hampir tidak beda dengan pe-ngaruh teman-teman dan ling-kungan (5%) dan anehnya ‘anak’ yang lebih muda memiliki kontribusi pada perubahan orang tua mereka (3%). Tidak heran kalau Tuhan Yesus mengatakan kalau kita tidak menjadi seperti anak-anak, kita tidak bisa masuk dalam kerajaan sur-ga. Ada hal-hal positif pada anak yang seharusnya meno-long kita berubah.
Sebaliknya orang bisa terhambat dalam pertumbuhan-nya karena interaksi dengan orang lain. Survei ini menunjukkan mayoritas (63%) menjumpai orang yang menjadi contoh buruk dan mem-buat tidak termotivasi untuk beru-bah. Mereka ini adalah para korup-tor (31%), teman-teman sekantor (10%), pejabat pemerintah (7%), oknum-okum yudikatif (5%), dll. Sudah barang tentu yang mereka maksudkan adalah orang-orang yang mereka kenal atau tahu yang berkarakter dan berperilaku buruk.  
Merefleksikan hasil survei ini timbul pertanyaan apakah kita sendiri telah berperanan dalam memulai perubahan di lingkungan kita? Tuhan menghendaki kita berubah terus menerus (Roma 12: 2) sehingga ada istilah ‘progressive sanctification’, yaitu berubah secara progresif, menjadi lebih kudus dan seperti Kristus. Namun orang percaya juga dipanggilan menjadi ‘garam’ dan ‘terang dunia’ dan saling mempengaruhi dalam proses perubahan itu.
Jika kita ingin berdampak dalam perubahan di masyarakat, satu strategi yang efektif adalah dengan menampakkan perubahan yang kita inginkan dalam diri sendiri. Alkitab mengatakan pelita yang menyala tidak diletakkan di bawah gantang melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah (Matius 5:16). Karena sifat manusia adalah meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang lain di lingkungannya sebagai proses belajar dan berubah maka dengan menjadi teladan kita akan menolong lain berubah.
Tuhan memberkati.v

*Penulis adalah partner Trisewu Leadership Institute

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *