Journey Of The Faith

 Harry Puspito
(harry.puspito@yahoo.com)*

Iman adalah bagian penting bahkan utama dari manusia karena iman tidak saja menentukan bagaimana orang hidup di dunia ini tapi terlebih di dunia yang akan datang. Sudah barang tentu perjalanan iman setiap orang itu unik, tidak ada yang sama satu dengan yang lain, karena Sang Pencipta yang Maha Kreatif itu yang menetapkan langkah-langkah perjalanan iman seseorang. Namun Dia yang bekerja dengan keteraturan memungkinkan kita melihat pola-pola dari konsep perjalanan iman itu. Satu sumber sudah barang tentu adalah Alkitab. Namun data primer dari perjalanan iman dapat dilihat dalam kehidupan manusia kontemporer. Dalam zaman dan budaya yang berbeda-beda, ini menambah variasi dalam pola perjalanan iman seseorang.
 Kalau kita membatasi pada perjalanan iman seorang Kristen, pola yang paling sederhana mengatakan ketika seorang menjadi percaya, dia mengalami apa yang disebut dengan pembenaran (Roma 3:28), artinya dari seorang yang berdosa, kemudian karena pengorbanan Kristus, status hukum-nya dibenarkan di hadapan Allah, ketika dia menjadi percaya. Sejak itu dia akan mengalami proses penyucian (1 Tesalonika 5:23), di mana melalui karya Roh Kudus hidupnya dikuduskan secara progresif.  Artinya, walaupun hidup seorang kelihatan pasang surut, namun kecenderungannya adalah semakin berkenan kepada Tuhan, dan seharusnya semakin berbuah bagi Dia. Ketika dia mengakhiri perjalanan imannya di bumi ini, dia akan mengalami “penyempurnaan” ketika bertemu muka dengan muka dengan Sang Juruselamat, Yesus Kristus (Efesus 5:27). Banyak teolog berkeyakinan peristiwa ini sangat disederhanakan.
 Perjalanan yang lebih detil dan bermanfaat untuk memahami pergumulan pertumbuhan iman seseorang adalah melalui model yang dibuat oleh Janet Hagberg/ Robert Guelich dan dimodifikasi oleh Peter Scazzero dalam bukunya Emotionally Healthy Spirituality. Mereka membagi perjalanan iman seseorang menjadi enam tahap, dimulai dari tahap kesadaran seseorang akan Allah yang mengubah hidup. Berbagai peristiwa bisa membangkitkan kesadaran itu, namun sudah barang tentu di balik peristiwa apapun, sesungguhnya Roh Allah yang bekerja sehingga seseorang menyadari keberdosaannya, ketidak-berdayaannya dan kebutuhannya akan Allah untuk mengangkat dia dari ketidak-berdayaannya itu. Ketika menjadi percaya dia akan mengalami kelegaan, damai, rasa kagum, melihat arti hidupnya, meyakini dosanya diampuni.
 Pada tahap berikut seorang “petobat baru” atau orang percaya lama yang mengalami pembaharuan merasa kehausan, akan banyak belajar – sehingga tahap berikut ini boleh disebut sebagai tahap belajar, atau kita sering menggunakan jargon “pemuridan”. Dalam tahap ini dia mendapatkan jawaban-jawaban atas banyak pertanyaan sehubungan dengan relasi barunya, bagaimana dia harus hidup, dan sebagainya.  Dia mencari dan mendapatkan teladan dari mereka yang sudah lebih “dewasa” dalam menghidupi imannya. Ada perasaan hidupnya sudah benar. Dia merasa memiliki arti dengan menjadi bagian dari komunitas barunya. Ada perasaan aman menghadapi hidup dengan iman yang sekarang dimilikinya.
 Pada tahap ketiga, seseorang secara wajar akan terlibat dalam “pelayanan rohani” sesuai dengan arahan seniornya dari minat dan bakat dan karunia rohani yang dia miliki. Dia merasa memiliki keunikan dalam komunitasnya sehingga dia bisa berperanan. Simbol-simbol kerohanian dia kenali dan memiliki nilai yang semakin penting, seperti apa itu talenta, karunia rohani, buah roh, Roh Kudus, dan sebagainya.  Dia mencapai sasaran-sasaran rohani seperti melakukan saat teduh, berpuasa dan berbagai pelayanan rohani. Sudah barang tentu dia akan terus belajar dan minatnya berkembang semakin luas.
 Pada tahap berikut masa-masa “manis” ini mengalami tantangan-tantangan. Kalau dahulu berdoa sepertinya Tuhan langsung menjawab, sekarang dia mendapatkan kenyataan lain. Ternyata dia menghadapi harus mengalami kegagalan-kegagalan, bahkan penderitaan yang berat padahal dia sudah melayani. Ini menyebabkan dia kadang merasa kehilangan kepastian akan imannya yang dulu sepertinya memberikan kepastian. Tahap ini disebut tahap seorang mengalami apa yang disebut “tembok” atau “masa kegelapan jiwa” (“dark night of the soul”) dan perjalanan ke dalam seseorang. Pada tahap ini dia mencari arah, bukan jawaban. Dia mulai mengejar integritas dalam hubungan dengan Tuhan. Allah dia lepaskan dari “kotak” yang selama ini dia ciptakan untuk membatasi ruang gerak-Nya.
 Tahap kelima, kalau dia melewati tahap sebelumnya dengan baik, memasukkan dia ke “perjalanan keluar”. Dia mengalami perasaan baru penerimaan oleh Allah. Dia merasakan kehidupan horisontal, dengan sesama, yang baru. Dia merasakan panggilan dalam pekerjaan atau pelayanan – dan bukan sekedar kegiatan. Dia merasakan beban kepada orang lain. Dalam diri dia mengalami keteduhan dan ketenangan yang dalam.
 Pada tahap selanjutnya dikatakan dia mengalami perjalanan tranformasi oleh kasih. Hidupnya menjadi semakin seperti Kristus. Dia mendapatkan hikmat dari pergumulan-pergumulan hidup. Memiliki belas kasihan yang besar kepada orang lain. Dia memiliki emosi yang sehat, keterpisahan dari “dunia” dan stres kehidupan. Ada di tahap mana perjalanan iman saudara? Tuhan memberkati! (BERSAMBUNG).
 

Recommended For You

About the Author: Harry Puspito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *