Pandangan Kristen Progresif

PERTANYAAN:

Bapak penulis konsultasi teologia, akhir-akhir ini muncul istilah tentang Kristen Progresif, setelah B. S. muncul dalam YouTube, dalam diskusi podcastnya, yang mengungkapkan isi hatinya perihal keyakinannya dengan tampilan dan perilakunya.

Dan dalam podcastnya M. R., menyatakan telah menanggalkan jabatannya sebagai pendeta, dengan memperkenalkan pengalaman spiritualnya yang otentik dengan sebutan Kristen Progresif (KP).

Kami mohon Bapak dapat menjelaskan tentang pandangan Kristen Progresif yang dimaksud. Apakah Kristen Progresif sama dengan kekristenan menurut Injil?

JAWABAN:

Isu Kristen Progresif ini menjadi viral, oleh karena munculnya sebuah diskusi lintas agama/keyakinan, yang menegaskan bahwa kekristenan otentik, tidak wajib mengikuti ritual seperti yang dilakukan kaum konservatif. KP menyatakan, tidak terlalu penting dogma iman Kristen, cukup mewujudkan cinta kasih kepada sesama, maka kita menjadi makhluk yang berbahagia. Pada dasarnya, setiap  agama mengandung esensi, dan kemasannya dipahami sebagai kasih dan aturan-aturannya. Usunglah esensinya, yang sama diajarkan di agama-agama lain, dan bukan aturan yang lebih teknis dan beragam dalam perbedaan.

Intinya KP. lebih merupakan ekspresi iman yang dialami seseorang, dalam bentuk nyata di tengah komunitas, ketimbang ‘ngotot’ mempertahankan dogma dan sikap perilaku keagamaan di tengah masyarakat. Sebuah pengalaman yang cenderung antropomorfistik dan wujud kebaikan yang lepas dari kebenaran theosentrik. Sebagai konternya, apa yang firman Allah katakan dalam Yohanes 20:31,  “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Juga di kitab 1Yohanes 5:13 tertulis, “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.”

Menghidupi dua teks yang menjadi inti Injil (kekristenan), dan bagaimana menangkal ketersesatan ajaran, adalah mengenal satu-satunya Allah dan Yesus Kristus utusan Allah sebagai definisi hidup kekal, merupakan kredo yang fondasional dan final.

Perbedaan pandangan KP dengan Injil ialah: pertama, KP. pusat hidupnya lebih mengandalkan logika dan perasaan ketimbang iman. Kedua, pandangannya lebih berpusat kepada manusia daripada Allah. Konsekuensi dari pandangan KP adalah: pertama, otoritas dan kemutlakan alkitab boleh diragukan. Kedua, paham Kristologinya selain hanya menekankan keinsanian Yesus, sekaligus menolak keilahian Kristus.  Ketiga, rumusan pemahaman Allah Tritunggal dan Kristologi tidak lagi menjadi hal yang krusial dan penting dalam kehidupan.

Peran kita sebagai umat Tuhan, adalah menunjukkan buah kehidupan baru yang berperan menjadi “Garam & Terang Kristus” di dunia, yang mengakar pada kredo di atas. Diibaratkan seperti benih yang bertumbuh, berakar dan berbuah, di ruang anugerah Allah yang berjanji. Sekaligus menjadi batu-batu hidup yang dibangun untuk menjadi rumah Allah, yang penuh anugerah untuk menyatukan setiap orang percaya sebagai keluarga Allah.

Hadirnya KP. di kalangan gereja, sejatinya harus menjadi titik balik para pemimpin, untuk bebenah diri ketimbang melakukan argumentum ad hominem (argumen kepada manusia). Alih-alih menegakkan ajaran iman Kristen padahal antipati terhadap sikap dan perilaku sosok yang memunculkan isu KP. ini.  Usunglah berita inti dari Injil, agar orang dunia melihat dan mengalami Tuhan melalui kehidupan kita. Hidupilah apa yang kita katakan, yang mengakar pada apa yang Tuhan Yesus ajarkan dan teladankan. Kasihilah  Allah, dan sesama seperti mengasihi diri sendiri, tidak berhenti dalam rumusan, tetapi mewujud dalam terapan yaitu saling mengasihi yang kemampuan dan dorongannya  bermula dari Allah yang mengasihi.

Allah mau kita terus merawat pertumbuhan pohon iman kita, secara progres dengan berakar pada janji-Nya dan berbuah lebat pada musimnya yaitu, kasih yang mewujud bagi kemaslahatan. Akhirnya dunia tahu bahwa kita adalah murid Kristus Yesus, karena amanat Yesus dihidupi hingga menghasilkan buah kebaikan.

Jika anda membutuhkan konsultasi teologi,
silakan mengirim pertanyaan ke sekretariat yapama: 0811-8888-804

Recommended For You

About the Author: Pdt. Simon Stevi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *